Innovator tidak selalu menciptakan
sesuatu produk yang harus sama sekali baru, tindakan innovatif dari innovator bisa merupakan tindakan adaptasi dari sebuah imitasi
(sesuatu yg tidak baru), artinya dia mengerti apa yang akan dilakukan dan dapat
melihat kekeliruan orang lain serta mengenali perilaku tertentu yang berakibat pada
keberhasilan atau kegagalan. Sehingga dengan cara yang demikian ini, innovator
akan selalu berusaha mengadopsi beberapa
bagian dari proses yang menguntungkan dan menggantikan bagian yang cacat.
Sedangkan imitasi produk imitator,
hanyalah sebuah salinan (copy) tanpa
pemahaman.
Untuk pembangunan daerah yang lebih progresif, inklusif, dan berkelanjutan.
Sabtu, 14 Januari 2017
Kamis, 29 Desember 2016
TECHNOPARK di Bantaeng, Triple Helix Model (A,B,G) atau Quadruple Helix Model.( A,B,G,C)?
Zona pengembangan komoditas di Technopark Bantaeng
Technopark di Bantaeng sebagai pusat
perbenihan adalah contoh unik untuk sebuah pengembangan kawasan technopark dengan zona terkoneksi dimana kawasan perbenihan berada di beberapa lokasi yang
terpisah namun saling terkoneksi. Adapun lokasi/zona produksi benih tersebut mayoritas dimiliki
dan di usahakan oleh masyarakat
setempat (petani). Disini peran masyarakat sangat berpengaruh terhadap sukses
atau tidaknya usaha untuk mewujudkan Technopark Bantaeng
sebagai pusat perbenihan di kawasan Indonesia bagian Timur. Dalam tataran ini Triple Helix Model (A,B,G) dianggap kurang karena ada satu elemen yang belum terwakili , yakni keterlibatan aktif
masyarakat atau komunitas. Model ini juga memperlihatkan bahwa masyarakat
lebih sebagai objek dari hasil inovasi. Padahal, masyarakat juga dapat memiliki kemampuan sebagai subjek atau penghasil atau pemberi
ide/pengetahuan/teknologi dalam sebuah sistem inovasi sehingga Quadruple Helix Model. A,B,G,C dianggap lebih baik.
Senin, 19 Desember 2016
PHOTO KEGIATAN SEREMONIAL MONEV 8-12-2016 TECHNOPARK DI BANTAENG
- Rapat Monitoring dan Evaluasi Capaian Kinerja Technopark tahun 2016, dilaksankan di Kantor Bupati ( Ruang Pola ) Kabupaten Bantaeng Sulawesi Selatan
- Penyerahan secara simbolis kunci kantor sementara Teknopark dari ibu ketua Penggerak PKK kepada Kepala BAPPEDA merangkap Kepala Koordinator Pembangunan Technopark di Kab.Bantaeng
- Penyerahan hasil kaji terap teknologi pengolahan hasil (pasca panen) dan Desain Kemasan Produk Olahan Ikan kepada 10 UKM binaan Dinas Perikanan Kabupaten Bantaeng oleh Ibu Bupati Kabupaten Bantaeng sebagai Ketua Penggerak PKK
- Launching dan penyerahan Logo dan Website Bantaeng Technopark oleh DR.Iwan Sudrajat Direktur PTKS-BPPT kepada Ibu Qolby Kepala Pelaksana Tugas Technopark
- Penyerahan bibit jagung BR-4 dan piagam technopreneur Technopark di Bantaeng 2016 kepada koperasi produsen benih tanaman pangan “Eremattika” oleh Ir. Sutardjo, MSi Kepala Program
- Penyerahan benih ikan nila yang ke-500.000 kepada petani pembesaran oleh Ir.Arief Arianto MSc, Direktur PTPP-BPPT
Sabtu, 10 Desember 2016
CAPAIAN KINERJA BANTAENG TECHNOPARK 2016
Hingga akhir Nopember 2016, Bantaeng Technopark dengan cita citanya untuk menjadi pusat benih kawasan Indonesia Timur tahun 2019, secara konsisnten terus melakukan inovasi dalam mewujudkan cita cita tersebut. Membangun Link dengan pemerintah Daerah, Perguruan Tinggi, Lembaga Litbang,Pengusaha dan Calon Pengusaha.
Kegiatan pada tahun 2016 ini sebagian besar masih bertumpu pada penguatan UPTD yang ada di Kab.Bantaeng, khususnya perbenihan tanaman pangan, hortikultura, perikanaan dan peternakkan. UPTD adalah salah satu alat kelengkapan/mitra technopark , mengingat technopark yg di kembangkan ini mempunyai kekhasan tersendiri yaitu tidak terpusat pada satu kawasan, akan tetapi tersebar mengikuti 3 (tiga) zona budidaya (atas, tengah dan bawah) yang memiliki Agroklimat berbeda-beda, sehingga benih yg akan di kembangkan memiliki kesesuaian dengan zona yang ada.
Rabu, 30 November 2016
MENGAPA E COMMERCE ANDA TIDAK SUKSES
Tahun 2014, adalah tahun yang
dimana situs jual/beli online (e-commerce) tersebar dimana-mana. memasarkan
produk mereka ke internet, dengan tujuan agar dagangannya laris manis. e-commerce pada dasarnya memfokuskan
diri pada transaksi bisnis berbasis individu atau kelompok dengan menggunakan
internet sebagai medium pertukaran barang atau jasa baik antara dua buah
institusi (business to business) dan konsumen langsung (business to consumer) melewati
kendala ruang dan waktu. Secara konseptual arsitektur teknologi
informasi yang dipergunakan dalam e commerce dapat dibagi menjadi dua sistem
besar, yaitu front office system (FOS) dan back office system (BOS). Pada
dasarnya, situs atau website merupakan user interface dari FOS karena sifatnya
yang menghubungkan konsumen dengan perusahaan. Sehingga seringkali perusahaan
mengalokasikan sebagian besar sumber daya-nya untuk membangun sistem ini agar
tampak bagus dan menarik di mata konsumen, akan tetapi kebanyakan perusahaan lupa untuk membangun
sistem administratifnya atau BOS, yang sebenarnya merupakan aktivitas penting penunjang
transaksi bisnis yang ada. Contoh: bagaimana jika pembeli kecewa karena barang yg dipajang di situs web ternyata habis? atau barang yg diterima tidak sesuai dengan yg di iklankan? dst.
Selasa, 22 November 2016
PENDAMPINGAN TEKNIS PRODUKSI BIBIT TALAS DAN KENTANG
Kegiatan
perbanyakan satoimo dilokasi tenant/ PPBT melalui teknik ex vitro masih terus berlanjut hingga saat
ini dan sedang memperbanyak tanaman untuk pemenuhan target bibit dan keperluan
pengujian. Rata-rata produksi bibit ex vitro dapat dilakukan dalam waktu lebih
singkat yaitu 2-3 bulan. Kelebihan produksi tanaman dengan metode ex vitro
adalah dapat dilakukan perbanyakan tanaman dalam jumlah besar dengan bahan
(indukan) yang terbatas.
Begitu pula perlambatan dormasi umbi
bibit satoimo juga dilakukan untuk tujuan menjaga ketersediaan umbi bibit di
tingkat produsen maupun petani dengan cara memperlama masa dormansi umbi dari
yang umumnya hanya 2-3 bulan menjadi 3-4 bulan. Dengan terhambatnya masa
dormansi ini akan menyebabkan umbi dapat ditersedia pada saat dibutuhkan untuk
ditanam. Hal ini diharapkan petani akan selalu bisa mendapatkan umbi tanpa
khawatir akan bertunas terlebih dahulu dalam tempat penyimpanan.
Penguatan SDM melalui konsultasi teknis dan pendampingan bagi petugas laboratorium di dalam memproduksi benih kentang bebas virus dalam kultur
in vitro telah dilaksanakan di laboratorium Kultur Jaringan, Dinas Pertanian
dan Peternakan yang berada di Loka, Kec. Uluere, Kab. Bantaeng. Sampai dengan
saat ini telah dilakukan aplikasi metode sterilisasi umbi serta modifikasi
media perbanyakan plantlet kentang
Rabu, 16 November 2016
BPPT TERAPKAN E-BENIH DI TEKNOPARK BANTAENG
Direktur Pusat Teknologi Produksi Pertanian – BPPT Arief Arianto,
menyampaikan bahwa program aplikasi e-Commerce yang dikembangkan BPPT untuk
Teknopark Bantaeng memiliki keunikan. Program aplikasi tersebut khusus
dikembangkan untuk mendukung industri perbenihan, sehingga dinamakan e-Benih.
Program aplikasi e-Benih ini, diharapkan selain membantu meningkatkan
efekktifitas dan efisiensi pemasaran dan penjualan produk-produk yang
dihasilkan tenant-tenant Teknopark Bantaeng, juga berfungsi membantu menginformasikan
ketersediaan benih, meningkatkan jaminan dan keaslian mutu benih serta
memperbaiki tranparansi dalam bertransaksi
Selasa, 15 November 2016
KOORDINASI TROIKA, DIREKTUR PTPP-TAB DENGAN DINAS TERKAIT TENTANG KEGIATAN DI TEKNOPARK BANTAENG
Gambar-1
Pertemuan dengan dinas Koperasi dan UMKM (Ibu Meyriayi) tentang bentuk legal hukum Pengusaha Pemula Berbasis Teknologi (PPBT) yang sesuai dengan kondisi masyarakat di Kabupaten Bantaeng. Dengan memperhatikan SDM Masyarakat di Kab.Bantaeng yang sebagian besar masih memiliki pola pikir sebagai petani, sehingga untuk mengubah menjadi pola pikir pengusaha diperlukan waktu untuk membentuknya, Adapun bentuk usaha yang di harapkan cocok dengan kondisi ini adalah : Koperasi, UD (Usaha Dagang) atau CV (Commanditaire Vennootschaap), kedepan bila pola pikir pengusaha/ wirausaha dan pengetahuan tentang tata kelola perusahaan yang baik sudah menjadi budaya maka bentuk PT (Perseroan Terbatas) dapat diwujudkan juga.
Gambar-2
Pertemuan dengan Ibu Qolbi dan Bp.Budi Taufiq membicarakan tentang sharing dana dari pihak Pemerintah Daerah Kab.Bantaeng pada kegiatan Teknopark Bantaeng yang di motori oleh PTPP-TAB Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi agar lebih terarah dan tepat sasaran sesuai dengan misi dan visi Teknopark Bantaeng
Gambar-3
Pertemuan dengan Dinas Perindustrian,Pertambangan dan Energi membicarakan tentang kelanjutan kegiatan kebutuhan dasar (PLTMH), Rencana Bisnis pupuk SRF dan instalasi peralatan produksi pupuk hayati organik
PELATIHAN TEKNOLOGI PERBANYAKAN Trichoderma spp UNTUK PRODUKSI BENIH DI TEKNOPARK BANTAENG
Pelatihan teknologi perbanyakan Trichoderma spp. dilaksanakan pada tanggal 15 November 2016 di UPTD
Balai Benih Daerah Tanaman Pangan (PUTD BBDTP), Kabupaten Bantaeng. Tujuan dari
pelatihan ini adalah memperkenalkan teknologi yang mudah dan murah untuk
perbanyakan cendawan Trichoderma spp.
Trichoderma spp. merupakan cendawan yang hidup di dalam tanah dan berpotensi
dimanfaatkan untuk mengendalikan penyakit tanaman. Potensi lain Trichoderma spp. adalah menstimulasi
pertumbuhan tanaman. Keuntungan penggunaan Trichoderma
spp adalah mudah diperbanyak dengan bahan pembawa yang di sekitar petani.
Pelatihan ini dibuka oleh Kepala UPTD BBDTP, Muhammad Herman
Nur, yang berharap agar pelatihan ini bisa menambah pengetahuan calon PPBT di
Teknopark Bantaeng untuk menjadi produsen benih berbasis teknologi. Dwi
Pangensti H, SP, MSi dalam sambutannya sebagai koordinator kegiatan produksi
benih unggul program Pengembangan Kawasan Teknopark Bantaeng BPPT mengatakan
bahwa pelatihan ini diadakan untuk mendukung calon PPBT produsen benih dalam
rangka menghasilkan benih yang bermutu dan berkualitas. Pelatihan ini dihadiri
oleh 30 peserta yang terdiri dari penyuluh lapangan, petani calon PPBT dan
teknisi UPTD BBDTP.
Pelatihan ini diawali presentasi mengenai teknologi
perbanyakan Trichoderma spp. oleh Winda
Nawfetrias, SP, MSi dari PTPP-BBPT yang menjelaskan pengetahuan umum mengenai Trichoderma spp., teknologi perbanyakan Trichoderma spp. menggunakan bahan
pembawa beras dan menayangkan video perbanyakanTrichoderma spp. dengan teknik yang mudah. Peserta dibagi menjadi
dua kelompok untuk praktek perbanyakan Trichoderma
spp. yang dipandu oleh Eka Nurhangga, SSi. Pelatihan ini ditutup oleh Direktur
PTPP-BPPT, Ir. Arief Arianto, MSc, yang berharap pelatihan ini dapat menjadi
teknologi tepat guna yang dapat diaplikasikan oleh calon PPBT produsen
benih.
Jumat, 11 November 2016
DISKUSI DENGAN PAK ANDI KRISTIANTO MENGENAI PEMBIBITAN SATOIMO
Dari kiri kekanan: Ibu Dwi,Ibu Winda dan Bapak Andi
Serpong 8/11/2016
Dibawah ini adalah diskusi/percakapan antara perekayasa PTPP-BPPT (Ibu Winda) dengan pelaku bisnis satoimo PT.AGROLAWU (Bp.Andi Kristianto). Tujuannya adalah diskusi untuk menjembatani apa yang diperlukan pasar (pelaku bisnis) dan apa yang akan/sedang dilakukan oleh perekayasa/peneliti, agar arah pendampingan teknologi yang diberikan kepada calon technopreneur tepat guna/sasaran dalam memenuhi kebutuhan pasar bibit satoimo.
Tanya (Ibu Winda) :
Jenis umbi seperti apa yang dapat digunakan sebagai bibit satoimo yang
baik ?
Jawab (Bp.Andi Kristianto) : Jenis umbi satoimo yang baik untuk digunakan
sebagai bibit sebaik nya :
Umbi dipanen saat sudah masak fisiologis sempurna
yang ditandai dengan keringnya/matinya tanaman utama, kemudian muncul
tunas-tunas baru di umbi
Umbi yang paling baik digunakan sebagai bibit
adalah umbi anak
Ukuran umbi tidak mempengaruhi produksi umbi
artinya tidak diperlukan grading umbi untuk umbi bibit
Tanya (Ibu Dwi) : Teknik perbanyakan umbi bibit seperti apa yang
baik dan menguntungkan?
Jawab (Bp.Andi Kristianto) : Beberapa macam perbanyakan umbi bibit satoimo
sebagai berikut :
Perbanyakan
melalui kultur jaringan
Perbanyakan melalui kultur jaringan telah dilakukan
oleh Pak Andi dan BIOTROP dengan teknik somatic embryogenesis dan teknik
perbanyakan mata tunas, namun tidak menguntungkan secara bisnis karena
membutuhkan waktu lama sekitar 18 – 20 bulan (umbi yang berasal dari planlet
kecil-kecil jadi dibutuhkan tahap aklimatisasi untuk memperbesar umbi seperti
pada perbanyakan kentang), keragaman produksi umbi tinggi, banyak kegagalan dan
harga planlet mahal. Perbanyakan melalui kultur jaringan sesuai diterapkan
khusus untuk petani yang berminat menjadi petani penghasil umbi bibit dan bukan
petani umbi konsumsi.
Perbanyakan
melalui pembelahan umbi
Perbanyakan melalui pembelahan umbi
telah dilakukan pula oleh Pak Andi, namun kurang menguntungkan secara bisnis
karena membutuhkan biaya lebih. Pembelahan umbi dapat dilakukan bila umbi sudah
tua.
Perbanyakan
melalui umbi
Perbanyakan menggunakan umbi merupakan perbanyakan
yang paling efektif dan menguntungkan secara bisnis.
Tanya (Ibu Winda ) : Teknik pembibitan seperti apa yang terbaik untuk
satoimo?
Jawab (Bp.Andi Kristianto) : Pembibitan satoimo harus dilaksanakan oleh divisi
khusus pembibitan dan tidak tercampur dengan bagian yang menangani umbi
konsumsi. Apabila kebun bibit berada di dataran rendah maka umbi dipanen pada
saat tanaman berumur 6 – 6.5 bulan, sedangkan kebun bibit berada di dataran
tinggi maka dipanen pada saat tanaman berumur 7 bulan. Teknik budidaya umbi
untuk bibit dan umbi untuk konsumsi tidak berbeda, yang membedakan adalah umur
panen, perlakuan panen dan pasca panen.
Tanya (Ibu Winda ) : Bibit yang seperti apa yang diinginkan pasar?
Jawab (Bp.Andi Kristianto) : Pengusaha umbi konsumsi satoimo biasanya akan
menanyakan asal bibit satoimo, sehingga perlu dijaga kemurnian dan kualitas
umbi bibit satoimo. Ketidakmurnian umbi mungkin terjadi karena adanya mutasi
gen atau karena pengaruh lokasi penanaman, sebab yang pasti belum diketahui
oleh Pak Andi. Ukuran umbi bibit tidak mempengaruhi jumlah umbi yang diproduksi
sehingga grading berdasarkan ukuran tidak diperlukan.
Tanya (Ibu Dwi ) : Saran Pak Andi untuk pembibitan satoimo di
Bantaeng?
Jawab (Bp.Andi Kristianto) : Pengaturan pola tanam diperlukan untuk produksi
bibit satoimo di Bantaeng, mengingat penanaman satoimo di Bantaeng biasanya
hanya satu kali? Perlambatan dormansi diperlukan jika produksi bibit sudah
berlebih namun saat ini permintaan umbi konsumsi satoimo yang tinggi dari
Jepang menyebabkan permintaan bibit satoimo juga tinggi sehingga Pak Andi tidak
tidak pernah menyimpan umbi bibit terlalu lama. Pelapisan umbi perlu
dipertimbangkan perhitungan ekonominya mengingat permukaan satoimo cukup luas
dibandingkan benih yang lain. Yang perlu dipertimbangkan saat melaksanakan
penelitian adalah tujuan penelitian apa? Bagaimana pasar bibit satoimo untuk
petani di Bantaeng? Bagaimana perilaku pasar? seberapa luas kebun yang akan
digunakan sebagai kebun produksi bibit? Bagaimana permintaan pasar terhadap
bibit satoimo?
BANGUN PERBENIHAN DI BANTAENG, TECHNOPARK BPPT TEMPA 60 PRODUSEN BENIH PADI DAN JAGUNG HIBRIDA
Bantaeng, 27/10/2016 - Dalam rangka
melaksanakan program Technopark Bantaeng tahun 2016, Pusat Teknologi Produksi
Pertanian (PTPP) BPPT bekerjasama dengan Dinas Pertanian dan Peternakan Kab.
Bantaeng menyelenggarakan pelatihan bagi 30 orang produsen benih padi dan 30
orang produsen benih jagung hibrida di Gedung PGRI, Kab. Bantaeng.
Kegiatan yang berlangsung pada tanggal 25-26
Oktober 2016 ini dibuka oleh Wakil Bupati Kab. Bantaeng Drs. HM. Yasin, MT,
didampingi oleh Kelapa Dinas Pertanian dan Peternakan Kab. Bantaeng Ir. M.
Zainuddin, MSi. Hadir pula Kepala Technopark BPPT untuk Bantaeng Ir. Sutardjo,
MSi dan insinyur kepala (Chief Engineer) Ir. Ahmad Suhendra.
Dalam sambutannya Wakil Bupati Bantaeng
menekankan perlunya petani mengadopsi teknologi yang terus berkembang. "Teknologi
terus berkembang tanpa dapat dihentikan, sehingga menjadi mutlak untuk dapat
mengikuti perkembangan tersebut, demikian pula pada teknologi pertanian.
Penguatan SDM dalam aplikasi teknologi perbenihan padi dan jagung hibrida
diperlukan untuk mendukung berjalannya Technopark Bantaeng yang sedang kita
bangun bersama" ujarnya dalam sambutan. Pelatihan ini dibuka dengan
penyerahan baju dan topi pelatihan kepada peserta secara simbolis oleh Wakil
Bupati Bantaeng.
Sementara itu Kepala Program Technopark BPPT
untuk Bantaeng, Ir. Sutardjo, MSi menyatakan bahwa BPPT memiliki target
terwujudnya pengusaha pemula berbasis teknologi (PPBT) dalam program Technopark
Bantaeng. Pelatihan ini merupakan salah satu tahapan yang harus ditempuh untuk
dapat membekali produsen benih manjadi calon-calon PPBT yang akan terlibat
dalam Technopark Bantaeng nantinya.
"Sekarang janganlah bermental petani, marilah
memiliki mental petani yang juga pengusaha. Karena kesejahteraan dapat
meningkat jika kita menjadi pengusaha sehingga pembekalan SDM produsen benih
ini perlu untuk kita semua. Bahkan untuk mendukung penguatan SDM Dinas
Pertanian dan Peternakan Kab. Bantaeng bekerjasama dengan BPPT dan IPB
membentuk program studi D1 Teknologi Benih di Bantaeng, yang rencananya
perkuliahan perdana akan dilaksanakan pada pertengahan November 2016"
ungkap Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan -Ir. M. zainuddin, MP- dengan
penuh semangat di hadapan semua peserta.
Dalam kesempatan pelatihan ini juga disampaikan
peran Technopark Bantaeng oleh Ir. Ahmad Suhendra selaku Chief Engineer.
"Technopark Bantaeng berperan untuk menjembatani antara
pemerintah/masyarakat, perguruan tinggi/peneliti serta swasta. Pada proses
pemasaran benih akan digunakan teknologi e-commerce untuk memudahkan
transaksi" imbuhnya
Pelatihan yang digelar selama 2 hari penuh ini
menghadirkan 10 pemateri yang berasal dari BPSB, Balitsereal, BPTP, Universitas
Hasanuddin serta UPTD BBD Kab. Bantaeng. Kegiatan pelatihan dilakukan secara
indoor untuk penyampaian materi serta outdoor untuk praktek lapang meliputi
produksi, prosesing, pengelolaan, pengemasan, penyimpanan dan pemasaran benih
padi dan jagung hibrida.
Selaku ketua pelaksana, Dwi Pangesti Handayani
SP, MSi menyampaikan bahwa kegiatan pelatihan produsen benih padi dan jagung
hibrida merupakan bagian dari program pengembangan Kawasan Technopark Bantaeng
bidang perbenihan. Diharapkan kegiatan ini dapat menjadi langkah awal yang
tepat untuk memberikan bekal ilmu dan motivasi bagi produsen benih di Bantaeng.
Salah satu pembicara dalam materi pengelolaan
benih padi, Ir. Arafah, MS menyatakan "Sulawesi Selatan merupakan lumbung
padi terbesar setelah pulau Jawa. Dengan luas lahan sawah sebanyak 587.328 ha, setidaknya
dibutuhkan benih padi sebanyak 12 ribu ton untuk Sulawesi Selatan saja.
Sehingga menjadi peluang yang sangat baik untuk bagi produsen benih padi di
Bantaeng serius mengelola permintaan benih tersebut."
Bergabung pula pada sesi akhir kegiatan ini
lima orang penyuluh Badan Pelaksana
Penyuluhan dan Ketahanan Pangan Kab. Manggarai Timur, Provinsi Nusa Tenggara
Timur. "Saya sangat puas dengan pelatihan ini meskipun hanya dapat
mengikuti praktek prosesing dan materi penyimpanan benih. Dapat mengisi kembali
ilmu kami. Motivasi dari para pembicara membangkitkan semangat kami untuk
memberikan hal yang serupa bagi daerah kami" ungkap Fransiskus Basim Buhari
sebagai ketua rombongan.
Dalam kesempatan ini juga disampaikan inovasi
teknologi dari BPPT untuk Technopark Bantaeng oleh Dwi Pangesti Handayani, SP,
MSi dan Winda Nawfetrias SP, MSi yaitu jagung hibrida BR-2 dan BR-4, biopestisida
Tricho-Best dan BB-Best serta metode penghitungan kebutuhan pupuk Fertilizer
Rate Calculator.
Salah satu peserta pelatihan produksi benih
jagung hibrida Kadir dari desa Biangloe, menyampaikan ucapan terima kasih pada
pihak penyelenggara acara yang sangat baik ini bagi petani. "Sekiranya
bisa dilaksanakan selama 5 hari penuh akan lebih baik lagi sehingga bisa lebih
mendalam pada setiap materi yang diberikan" pintanya.
Ketua UPTD BBD Kab. Bantaeng -Muhammah Herman
Nur- dalam pidato penutupannya menekankan "Kegiatan ini merupakan
kerjasama yang baik antara BPPT dengan Pemda Kab. Bantaeng khususnya Dinas
Pertanian dan Peternakan Kab. Bantaeng. Para produsen benih diharapkan dapat
memanfaatkan ilmu yang telah diberikan dan nantinya dapat bersinergi dengan
pihak terkait di Bantaeng untuk mencapai target capaian produksi benih dan
berjalan seiring dengan Technopark Bantaeng" pungkasnya.
Sabtu, 22 Oktober 2016
GELAR ACARA DISEMINASI TEKNOLGI PENGOLAHAN PANGAN
Sambutan Ketua Tim
Pelaksana Technopark Bantaeng, Bpk. Prof. Dr. Syamsu Alam dalam Acara
Diseminasi Teknologi Pengolahan Hasil Perikanan dan Pangan Lokal
Bantaeng 20 Oktober 2016
Dalam
rangka meningkatkan kemampuan teknis pengolahan dan penganekaragaman
produk, Tim Pusat Teknologi Agroindustri
(PTA) – BPPT, Program Pengembangan
Kawasan Technopark Bantaeng bekerjasama dengan Dinas Perikanan dan Kelautan
(DKP), Badan Ketahanan Pangan dan Pelaksana Penyuluhan (BKP3), dan Dinas
Pertanian Kabupaten Bantaeng menyelenggarakan kegiatan pelatihan / demo produk
olahan yang ditujukan kepada sekitar 25 orang yang terdiri pelaku usaha pemula,
kelompok usaha bersama (KUB), dan kelompok wanita tani (KWT) khususnya bidang
usaha olahan hasil perikanan dan olahan pangan berbahan baku lokal.
Koordinator kegiatan Penerapan Inovasi Teknologi Pasca Panen, Program
Pengembangan Kawasan Technopark Bantaeng, M. Jusuf Djafar, mengungkapkan kegiatan
pelatihan sehari ini merupakan wujud dari salah satu target kegiatan yang ingin
dicapai pada tahun 2016 ini yakni meningkatkan pemanfaatan teknologi pengolahan
hasil dan meningkatnya keragaman produk olahan. Melalui kegiatan pelatihan
sehari ini, saya berharap akan dapat menciptakan peluang usaha baru bagi
calon-calon pengusaha pemula berbasis teknologi (PPBT) dan menghasilkan produk
olahan inovatif yang bisa menjadi “icon” produk olahan Bantaeng.
Rabu, 12 Oktober 2016
LANGKAH STRATEGIS PENGEMBANGAN KAWASAN TECHNOPARK BANTAENG
Technopark adalah sebuah kawasan
(daerah) dimana teknologi ditampilkan (diperagakan), dikembangkan dan dikomersialkan.
Stakeholder dari sebuah Technopark umumnya adalah Pemerintah (biasanya
Pemerintah Daerah), Peneliti (Akademisi), Bisnis dan Keuangan berikut
Komunitasnya. Secara garis besar ada 2
(dua) bisnis yang akan berjalan didalam Technopark, pertama adalah bisnis
properti yaitu pemanfaatan gedung dan semua fasilitas yang ada dan yang kedua
adalah bisnis kontennya yaitu layanan teknologi (R & D) dan jasa yang
memberikan nilai tambah. Tujuan utamanya adalah meningkatkan daya saing daerah,
menumbuhkan budaya inovasi,meningkatkan mutu,mengorganisir perpindahan IPTEK
dari Universitas/Lembaga penelitian ke Industri sehingga mendorong terwujudnya aktivitas
inovasi. Adapun langkah strategis yang akan ditempuh dalam pengembangan
kawasan Technopark Bantaeng sebagai pusat perbenihan Indonesia bagian timur yaitu dengan mendekatkan lembaga penelitian ,lembaga pendidikan dan Industri wisata yang
dapat meningkatkan peran teknologi informasi (TIK)/multimedia dalam memperkenalkan
kawasan Technopark ketingkat Nasional/Internasional sebagai salah satu bentuk
kontribusi terhadap pembangunan daerah.
Selasa, 11 Oktober 2016
PENDIDIKAN VOKASI PERBENIHAN SETARA D-1 DI TECHNOPARK
Bantaeng 5 Oktober 2016
Pada hari Rabu, tanggal 5 Oktober 2016
bertempat di Ruang Pola-Kantor Bupati Bantaeng dengan disaksikan Wakil Bupati
Bantaeng, jajaran Satuan Kerja Perangkat Daerah, para Camat, para Lurah dan
komunitas masyarakat menjadi momen yang sangat bersejarah bagi Kabupaten
Bantaeng, maupun kegiatan Technopark BPPT di Bantaeng. Pada momen tersebut,
telah ditandatangani, Perjanjian Kerjasama antara Pemerintah Kabupaten
Bantaeng, Institut Pertanian Bogor dan BPPT mengenai Pendidikan Vokasi Berkelanjutan di Bidang Perbenihan.
Tujuan pendirian program Vokasi ini adalah
menghasilkan tenaga-tenaga ahli pratama yang terampil di bidang perbenihan, inovatif,
siap pakai, berkualitas, memiliki kemampuan mengikuti perubahan zaman seperti
menggunakan teknologi informasi dan komunikasi sebagai alat pendukung
pemasaran, mengenali perubahan iklim dan lain-lain
Saat
ini dilakukan pembukaan pendaftaran bagi calon mahasiswa Pendidikan vokasi yang
selanjutnya,perkuliahan akan dimulai pada pertengahan bulan November 2016. Pendidikan vokasi ini ditargetkan
menghasilkan lulusan yang berkualitas, dan memunculkan pengusaha-pengusaha baru
di bidang perbenihan
VARIETAS JAGUNG BPPT DI KAWASAN TECHNOPARK
Panen Jagung BR4 BPPT di Bombong Kab.Bantaeng, dari kiri kekanan
Bp.Sutardjo (KP Technopark), Bp.Syamsu Alam (Ka.Bappeda),Bp.Zainuddin (Ka.Dinas
Pertanian), Bp.Arief (Dir.PTPP-BPPT), Bp.Bagus (IPB),Bp.Herman (UPTD Benih)
Salah satu visi Kabupaten Bantaeng adalah menjadi Pusat Benih
khususnya Sulawesi Selatan, umumnya untuk Indonesia Bagian Timur. Selaras
dengan program pemerintah saat ini yang akan mengembangkan technopark di
daerah, maka pengembangan technopark di Kabupaten Bantaeng diarahkan menjadi
Kawasan Penghasil Benih. Salah satu benih yang akan dikembangkan di kabupaten Bantaeng adalah
benih tanaman jagung. Untuk mewujudkan visi tersebut, pada hari Rabu
tanggal 5 Oktober 2016 di Dusun Bombong Desa Biangkeke, Kecamatan Pa’jukukang, Kabupaten Bantaeng dengan dihadiri
Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Bantaeng, Direktur Program
Diploma IPB, Kepala Bappeda Kabupaten Bantaeng, Kepala UPTD Perbenihan Dinas
Pertanian dan Peternakan Kabupaten Bantaeng telah dilakukan panen perdana varietas tanaman jagung hasil kajian BPPT yaitu varietas
BR-4 dan BI-3. Pemanenan perdana tersebut dilakukan dalam rangka uji preferensi jagung di
masyarakat.
Keunggulan varietas tersebut, adalah genjah yaitu memiliki
umur panen yang pendek sekitar 85 hari, tahan penyakit bulai,
potensi produksi di atas 10 ton pipilan kering per-hektar. Keunggulan tersebut, dibandingkan dengan varietas jagung yang rata
rata berumur sekitar
110-120 hari, akan menghemat waktu dan biaya
pemeliharaan bagi petani. Jeda waktu yang panjang sejak panen jagung dan masuknya musim
tanam padi, memberikan
keleluasaan bagi petani untuk menyiapkan pertanaman padi lahan saat pergantian musim tanaman
Selasa, 20 September 2016
BPPT PERAKIT BENIH UNTUK TECHNOPARK BANTAENG ??
by Ahmad Suhendra , dkk
MENGAPA MAYORITAS BENIH YANG DIHASILKAN DI TECHNOPARK BANTAENG BUKAN DIRAKIT OLEH BPPT?
Salah satu fungsi Technopark Bantaeng adalah mendekatkan/menarik inovasi/penelitian dari institusi (perguruan tinggi/lembaga Penelitian), sehingga dapat mempercepat aktivitas inovasi para Technopreneur dalam pengembangan produk dan mengurangi waktu yang dibutuhkan untuk memindahkan inovasi tersebut ke produk yang dapat dipasarkan secara komersial. Pernyataan ini menjawab pertanyaan dari berbagai pihak mengenai benih yang dihasilkan oleh Technopark Bantaeng. Technopark Bantaeng menarik inovasi benih dan menjalin kemitraaan dari berbagai institusi sehingga komersialisasinya diharapkan dapat meningkatkan pendapatan para technopreneur/wirausahawan dan menggerakan perekonomian Daerah. BPPT berperan untuk membantu proses kelahiran technopark di Bantaeng dengan mengkaji sekaligus memberikan diseminasi teknologi dalam berbagai bidang, utamanya benih. Teknologi produksi benih tidak hanya melulu pada benih itu sendiri namun juga pada hal-hal yang mendukung pertumbuhan optimum dari benih tersebut. Teknologi budidaya dengan segala aspeknya merupakan hal tak terpisahkan.
(Ref.Deborah J. Jackson ,What is an Innovation Ecosystem?
National Science Foundation, Arlington, VA )
National Science Foundation, Arlington, VA )
Dan tujuan
yang paling jelas dari pemerintahan Jokowi saat ini bahwa dana yg ditanamkan pada
kegiatan inovasi di Technopark , mampu menempatkan ekonomi daerah ke dalam fase
pertumbuhan sehingga meningkatkan pendapatan dari sektor pajak
Sabtu, 17 September 2016
Kunjungan penyerapan pandangan dari Tim Kementerian Sekretariat Negara RI ke Technopark Bantaeng
Kunjungan Tim Kementerian Sekretariat Negara , dalam rangka peneyerapan pandangan tentang Technopark Bantaeng (10 Agustus 2106). Adapun catatan penyerapan pandangan selama diskusi dan kunjungan ke lokasi :
1).Technopark harus diisi orang orang profesional yg tidak terikat struktur birokrasi seperti ASN (menjadi masukan bagi tim ),
2).kegiatan -kegiatan inovatif di TP Bantaeng ( teknologi pembenihan dan pengolahan pangan) sebagai bekal bisnis bagi technopreneur/PPBT sudah sesuai dengan ke inginan Bp.Jokowi.
3).Merek pada kemasan produk agar di daftarkan sebagai HKI,
Logo/identitas Technopark Bantaeng
Alhamdulilah, dari lomba logo yang di adakan tim technopark bantaeng dari sebuah situs yg cukup dikenal bagi para disainer logo, terpilih logo seperti gambar diatas . logo tesebut secara keseluruhan tersusun dari bentuk dasar 8 sisi yang dimaknai sebagai kota BANTAENG (8 Kecamatan) secara
keseluruhan, dengan sentuhan teknologi dan tanaman (pusat benih) yang menyatu menandakan logo
ini memberikan kesan TECHNOPARK . Mudah mudahan dengan logo , fungsi dan cita cita besar Technopark bantaeng sebagai pusat benih unggul Indonesia Bagian Timur bisa terwujud
Sabtu, 27 Agustus 2016
Kunjungan kerja anggota DPR RI komisi VII dan Rorenkeu BPPT ke Technopark Bantaeng
Bantaeng 24.08.2016
Kunjungan
kerja anggota DPR RI Komisi VII Bp.Mukhtar Tompo bersama rombongan Rorenkeu
BPPT ke Technopark Bantaeng Sulawesi
Selatan. Sambutan/jamuan yang bersahabat dan hangat diberikan tuan rumah Kepala Bappeda / Koordinator tim kerja Technopark Bantaeng (Bp.Syamsu Alam) yang mewakili Bupati Kab.Bantaeng yang selalu menemani rombongan meninjau ke beberapa lokasi kegiatan Technopark.
Dalam wawancara dengan tim dari BPPT yaitu Direktur PTPP-BPPT/Penanggung jawab kegiatan Technopark Bantaeng di BPPT , Kepala Rorenkeu BPPT dan Kepala Program Technopark Bantaeng di BPPT. Anggota DPR RI (Bp.Mukhtar Tompo) menyatakan Bahwa apa yang di gaungkan Bp.Jokowi (tentang technopark), ternyata sudah dilakukan di sini dan memang seharusnya pembangunan itu berdasarkan riset. Diharapkan Technopark Bantaeng menjadi contoh dan lokomotif pembangunan di Sulawesi Selatan serta dapat menjadi ikon Nasional.
Dalam wawancara dengan tim dari BPPT yaitu Direktur PTPP-BPPT/Penanggung jawab kegiatan Technopark Bantaeng di BPPT , Kepala Rorenkeu BPPT dan Kepala Program Technopark Bantaeng di BPPT. Anggota DPR RI (Bp.Mukhtar Tompo) menyatakan Bahwa apa yang di gaungkan Bp.Jokowi (tentang technopark), ternyata sudah dilakukan di sini dan memang seharusnya pembangunan itu berdasarkan riset. Diharapkan Technopark Bantaeng menjadi contoh dan lokomotif pembangunan di Sulawesi Selatan serta dapat menjadi ikon Nasional.
Lokasi
pertama yang dikunjungi adalah Pabrik Pupuk SRF, kemudian ke Dusun Bombong Desa
Biangkeke Kec. Pa'jukukang untuk melihat 7 (tujuh) varietas padi yaitu IPB 3 S ,IPB 4, Mugibat, Diah Suci, Bestari dan Inpari
23 serta Mamberamo dan melakukan panen
perdana secara seremonial oleh Anggota DPR RI Komisi VII (Bp.Mukhtar Tompo), Direktur PTPP-BPPT (Bp.Arief Arianto), Kepala Bappeda (Bp.Syamsu Alam), Kepala Badan Ketahanan Pangan (Ibu.Rita), Kepala UPTD benih padi (Bp.Herman) dan Kepala Rorenkeu BPPT (Bp.Makmuri) serta Kepala Program Technopark Bantaeng di BPPT (Bp.Sutardjo). Selanjutnya rombongan mengunjungi Balai Benih Ikan
di Rappoa yang dipandu Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan (Bp.Dimiati Nongpa) dan ke sentra pengolahan rumput laut untuk mencicipi berbagai macam
produk olahan dari rumput laut.
Kunjungan Bp.Hajrial pemulia tanaman padi IPB 3 S dan IPB 4 S serta panen perdana hasil uji preferensi 7 varietas padi di Technopark Bantaeng
Bantaeng 23.08.2016
Salah satu fungsi dari Technopark adalah
membangun link dengan perguruan tinggi, dan kunjungan Bp.Hajrial dari IPB
sebagai pemulia tanaman (bibit) padi merupakan perwujudan dari fungsi
technopark tersebut. Dalam kunjungannya ke Lembang, Bantaeng, Bp.Hajrial
mengungkapkan rasa senangnya bertemu para petani dan PPL pertanian tanaman padi
dan menjelaskan beberapa keunggulan varietas IPB 3S , kisaran produksi 7.04-10.23
ton/ha GKG dan IPB 4S kisaran produksi 7.02-10.5 ton/ha GKG serta keunggulan
lainnya adalah tidak memerlukan banyak air (cukup macak macak saja).
Diserahkannya
varietas IPB 3S dan IPB 4S (label kuning) oleh pemulianya kepada Technopark Bantaeng merupakan
berkah tersendiri terutama bagi masyarakat petani padi kabupaten Bantaeng. Dalam
kunjungan ini juga dilakukan panen perdana oleh Kepala Bappeda/Koordinator tim kerja Technopark Bantaeng (Bp.Syamsul Alam), Direktur PTPP/Penanggung jawab kegiatan Technopark Bantaeng di BPPT (Bp.Arief Arianto), Pemulia padi var,IPB 3S/4S (Bp.Hajrial), Kepala Badan Ketahanan Pangan (Ibu.Rita), Kepala Program Technopark Bantaeng di BPPT (Bp.Sutardjo) dan Kepala UPTD benih padi (Bp.Herman). Nantinya benih hasil
panen ini masih harus ditanam kembali sebanyak 2 (dua) kali agar benih ini
dapat disebar ke petani untuk dijadikan sebagai benih produksi (untuk
konsumsi). Dari 5 kg benih sumber akan
dihasilkan benih untuk ditanam sekitar 100 hektar tanaman padi produksi
(sekitar 2.000 kg benih sebar).
Langganan:
Postingan (Atom)



















